Rabu, 18 April 2012


Awas Hati-hati, Orang Miskin Tidak Boleh Sakit!




Beberapa kali media televisi menayangkan kasus-kasus yang terkait dengan masalah kesehatan seperti terjadinya kasus gizi buruk , maupun masalah buruknya pelayanan Rumah Sakit Pemerintah Pusat maupun Daerah. Dialog Metro Hari Ini (tanggal 7 April 2012) mengangkat Isu berjudul “Orang Mikin Tidak Boleh Sakit”, seiring dengan adanya pemberitaan pasien miskin terlantar di RSCM. Dialog tersebut melibatkan pembicara Wamenkes Ali Gufron Mukti yang juga pakar Asuransi dan Pembiayaan Kesehatan dari UGM, Hasbullah Tabrani seorang pakar kesehatan dari UI, Agus Pambagyo seorang pengamat kebijakan public dan seorang perwakilan dari komisi IX DPR RI yaitu Subagyo Partodiharjo.
Dialog berkisar tentang masih adanya diskriminasi pelayanan kesehatan oleh rumah sakit terhadap pasien dengan Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Askeskin). Mengapa hal tersebut masih terjadi justru ketika pemerintah pusat menganggarkan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin. Dalam dialog tersebut terungkap masih banyak RSUP/D yang enggan melayani pasien dengan jamkesmas karena minimnya unit cost yang ditetapkan oleh pemerintah terhadap orang miskin jika dibandingkan Negara tetangga seperti di Thailand yang jika ditilik fundamental ekonominya memiliki kemiripan dengan Indonesia, demikian yang di ungkapkan oleh Hasbullah Tabrani. Masalah lainnya menyangkut proses klaim yang sering tersendat-sendat karena lambatnya anggaran yang diturunkan oleh pemerintah pusat sehingga RSUD/P harus mencari sumber pembiayaan talangan bahkan RSUD/P terpaksa menunggak dalam pembayaran jasa pelayanan pada para pelaku kesehatan di RSUD/P.
Wamenkes Ali Gufron Mukti menjelaskan pada dasarnya peranan Dinas Kesehatan memiliki peranan krusial terhadap dua hal yaitu fungsi regulasi dan kontrol, artinya komitmen pemerintah daerah sangat menentukan terhadap baik buruknya pelayanan kesehatan di daerahnya masing-masing. Wamenkes juga menyesalkan mengapa pemerintah pusat lebih memilih subsidi BBM daripada meningkatkan anggaran kesehatan terutama sebagai safety netbagi masyarakat miskin. Dalam dialog terungkap juga adanya kejanggalan, menurut Hasbullah Tabrani harga BBM yang seharusnya dilepas dengan mekanisme pasar sedangkan sector kesehatan harus mendapatkan proteksi terutama pelayanan kesehatan terhadap orang miskin, yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Upaya menangani kegagalan pasar dengan memberikan dukungan pada orang miskin sudah dilakukan hanya saja Wamenkes Ali Gufron Mukti menegaskan masih perlunya perbaikan pada mekanisme system pembayaran yang seharusnya melibatkan pihak ketiga sebagai lembaga yang khusus melakukan pembayaran klaim secara professional, sementara yang selama ini terjadi tidak demikian.
Isu-isu yang berkembang ketika desentralisasi kesehatan mulai digagas oleh pemerintah pada permulaan reformasi sector kesehatan di Indonesia tahun 2001-2003 (Trisnantoro, 2005; Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001 - 2003; Apakah merupakan periode Uji Coba?. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta), ada sembilan isu yang hampir kesemuanya hingga 2012 memasuki dua periode Pemerintahan Presiden SBY berusaha diterapkan, hanya saja kualitas pelaksanaannya baik di pusat maupun di daerah fluktuatif dan variatif, hal ini terjadi karena pendulum politik yang selalu bergerak dari waktu ke waktu mempengaruhi berbagai kebijakan sector kesehatan, terkadang sinergis dan terkadang paradoks. Berikut ini sedikit mengulas beberapa isu yang relevan dengan adanya isu buruknya pelayanan RSUD/P di Indonesia.
Komitmen Politik untuk Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Pembangunan infastruktur pelayanan kesehatan merupakan indicator yang paling mudah dan memiliki nilai skala tertinggi (jika dikonversi ke dalam skala likert) misalkan saja nilai 10 pengaruhnya terhadap politik pemerintah baik pusat maupun daerah. Pertimbangannya adalah kebijakan ini mudah di lihat hasilnya oleh masyarakat awam, dan merupakan kebijakan popular terutama di daerah-daerah yang belum memiliki infra struktur pelayanan kesehatan belum memadai atau belum sesuai standard. Sisi negatifnya adalah jika anggaran terbatas, kecenderungan pemerintah pusat maupun daerah akan mengalokasikan anggaran untuk wilayah-wilayah strategis dan padat penduduk sebagai basis suara pada saat pemilu/pemilukada. Tidak jarang pembangunan baik menyangkut rehabilitasi maupun pengembangan terkesan dipaksakan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang sebenarnya sudah memadai, sementara fasilitas yang ada di daerah yang bukan kantong suara terbengkalai dan tidak terurus.
Pendekatan yang Pro Orang Miskin
Pemerintah pusat mengembangkan system Jaminan Kesehatan Masyarakat sebagai kelanjutan dari program Jaring Pengaman Sosial di sector kesehatan yang sudah berjalan sejak krisis ekonomi pada tahun 1998. Hingga saat ini pembiayaan yang Pro Miskin dikembangkan dengan kucuran dana dari pemerintah pusat dengan adanya Jaminan Persalinan (Jampersal) yang sudah tidak membedakan antara kaya dan miskin terkait dengan percepatan mengejar target MDG’s. Inilah yang kemudian menjadi bahan perbincangan di kalangan pengamat mengapa masih terjadi diskriminasi pelayanan kesehatan orang miskin, yang seharusnya tidak demikian adanya.
Benarkah unit cost masih rendah atau memang amanajemen dalam system pembayaran yang tidak professional dan akuntabel sehingga memungkinkan terjadi mismanajemen dan kebocoran anggaran. Dilema yang terjadi, ketika terjadi pengetatan dalam system pembayaran klaim maupun lambannya proses pencairan dana dari pusat ke unit pelayanan maka menimbulkan keengganan para pelaku kesehatan melayani pasien miskin. Dan jika terjadi kelonggaran dalam system pembayaran sebaliknya, terjadi jor-joran penggunaan anggaran dana Jamkesmas.
Terbatasnya penerima kartu Askeskin juga memberikan ruang terjadinya distorsi pada levelmasyarakat dimana terkadang sulit dipisahkan masyarakat yang kondisi ekonominya persis disekitar ambang garis kemiskinan. Satu realita sebagai contoh pada kasus ini adalah petani dan usaha kecil. Pada kondisi dimana mereka tidak menghadapi masalah kesehatan yang relative berat maka kehidupannya masih tergolong di atas garis kemiskinan. Namun jika terjadi masalah kesehatan yang kasusnya perlu penanganan lanjutan/rujukan berakibat keluarga tersebut terjatuh ke dalam jurang kemiskinan. Pada kasus ini tidak jarang menimbulkan friksi dalam pendataan dan cenderung pihak-pihak yang terlibat dalam pendataan tidak fair dalam memberikan penilaian.
Keseimbangan Peran Pemerintah, Swasta, dan LSM dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Siapa yang tidak kenal dengan ICW, kemudian juga institusi polisi juga ada LSM yang mengawasi, sepertinya di kesehatan tidak ada LSM yang berperan khusus mengawasi jalannya proses kebijakan pelayanan kesehatan, atau mungkin saja sudah terbentuk namun mana gregetnya. Pemerhati sector kesehatan terkadang muncul dengan membawa bendera individu tanpa adanya wadah LSM yang jelas, Sehingga kekuatan IDI , PPNI, IBI tidak ada penyeimbang yang sepadan.
Regulasi pemerintah terutama yang menyangkut Undang-undang Praktek Kedokteran, Undang-undang Keperawatan, distribusi tenaga kesehatan, pendidikan tenaga kesehatan dan sebagainya, apakah sudah benar dan sinergis dengan kebijakan-kebijakan lain di bidang kesehatan atau justru menjadi sumber masalah dalam implementasi kebijakan kesehatan pro orang miskin. Misalkan saja perihal pendidikan kesehatan, semua pihak mengakui tingginya biaya pendidikan di kesehatan, jika ini merupakan masalah bagaimana pemecahannya agar para pelaku kesehatan memiliki pemahaman dan sikap humaniora tidak dirasuki sepenuhnya oleh sifat Homo Homini Lupus, yang siap memangsa orang lain apalagi pasien dengan kondisi tak berdaya.
Manajemen Lembaga Pelayanan Kesehatan yang Berorientasi Pada Pengguna
Pada mekanisme pasar berlaku suatu ungkapan “Ada uang ada barang”, apakah ini baik diterapkan pada ekonomi sector kesehatan. Jika RSUD/P dalam operasionalnya merupakan mesin pencetak uang, maka resikonya adalah RSUD/P memiliki produk sesuai dengan segmen pasar. Perbedaan pelayanan bukan sekedar membedakan tempat inap semata, akan tetapi senyum untuk pasien saja dibedakan antara pasien kaya dan pasien miskin. Apalagi di RSUP plus pendidikan, pasien miskin merupakan objeknya coasisten dokter, sumbangsih orang miskin di dunia pendidikan kedokteran sampai saat ini tidak pernah diperhitungkan.
Customer Satisfaction atau kepuasan pelanggan yang merata terhadap semua pasien tanpa membedakan status ekonomi pada RSUD/P akan terjadi apabila memenuhi beberapa hal yang memungkinkan para pelaku kesehatan jauh dari pengharapan atas usaha yang dilakukannya selain dari prestasi kerja.
- Jasa medic tidak dipengaruhi oleh kelas pasien, tapi dibayarkan berdasarkan jumlah pasien yang ditangani tanpa memandang apakah pasien kelas VIP maupun biasa sama saja.
- Tidak ada obat yang tidak tersedia di RSU, termasuk obat-obat yang direkomendasikan oleh dokter-dokter spesialis. Ini alasan dokter sering memberikan resep luar, artinya pasien dibebani dengan pembelian obat yang tidak tersedia atau kehabisan stok obat di apotek RSU.
- Resep tidak diberikan kepada keluarga pasien untuk menebusnya atau mengambilnya, akan tetapi RSU telah memiliki unit tersendiri yang menangani masalah resep dan apabila terjadi ketiadaan obat di Apotek RSU maka tanggungan dari manajemen RSU untuk menggantikannya dengan jalan apapun misalkan saja pihak manajemen mengusahakan untuk mendapatkan obat tersebut di apotek luar RSU. Hal ini juga untuk mengantisipasi adanya kemungkinan resep aneh diberikan pada pasien miskin karena ketika visite dokter biasanya tidak sampai detail mengetahui apakah ini pasien miskin atau pasien mampu.
- Remunerasi bagi tenaga kesehatan agar para pelaku kesehatan tidak berorientasi menambah penghasilan diluar dari apa yang sudah mereka dapatkan. Hal ini sepertinya tidak pernah di perhatikan oleh pemerintah pusat sejak reformasi, sementara di dunia pendidikan, di lembaga keuangan, lembaga penegak hukum sudah dilaksanakan sejak lama. Jadi janganlah heran apabila pelaku kesehatan kebanyakan hidup di dua alam yaitu PNS sebagai alam yang menjamin hari tua dengan pensiunnya, dan alam swasta yang menjanjikan penghasilan lebih untuk menunjang kemapanan dan hedonisme pada usia muda produktif.
Kembali lagi, siapa yang menjadi korban akibat dari semua itu? tentunya orang miskin yang diperjuangkan oleh anggota DPR dan Demonstran untuk disubsidi BBM-nya padahal sekalipun disubsidi BBM, orang miskin dipedesaan lebih memilih menggunakan kayu bakar sehingga mereka gampang menderita sakit pernafasan (ISPA) atau memperparah kasus TB, jadi jangan heran juga seandainya morbiditas dan mortalitas tinggi di kalangan keluarga miskin, apalagi tidak ditunjang dengan pelayanan kesehatan yang baik. (Dikutip dari http://kesehatan.kompasiana.com)

Senin, 19 Maret 2012

PIDATO PRESIDEN SUKARNO DI DEPAN PEMUDA-PEMUDI DI ATJEH BIOSKOP KOTARAJA
( 16 Juni 1948 )

Anak-anakku sekalian. Aku hendak memberi kursus yang penting, kursus tentang hal, yah, apa yang buat pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi penting. Ialah pertama aku hendak memberi kursus tentang revolusi, tentang cita-cita dan lain-lain sebagainya, terutama sekali tentang cita-cita yang hendak kutanamkan di dalam kalbumu sedalam-dalamnya. Sebab pemuda harus bercita-cita. Pemuda yang tidak bercita-cita bukan pemuda, tetapi pemuda yang sudah mati sebelum mati.

Maka oleh karena itu, permintaanku kepada saudara-saudara, anak-anak sekalian, ialah supaya tetap bergelora di dalam cita-cita. Tetapi ketahuilah pula tiada gunanya kamu bercita-cita saja jikalau tidak pula berikhtiar mati-matian, bekerja mati-matian, berusaha mati-matian, membanting tulang mengeluarkan tenaga, memeras kita punya keringat, agar supaya cita-cita menjadi kenyataan, menjadi realiteit.

Kita sekarang berada di tengah-tengah revolusi. Revolusi adalah satu kejadian gegap gempita. Tadi malam ketika aku berpidato di hadapan pemimpin-pemimpin, kukatakan kepada pemimpin-pemimpin itu supaya mereka belajar berpikir secara historis.

Berpikir secara historis berarti supaya mengerti jalannya sejarah, jangan berpikir secara kecil dengan ukurannya hari atau jam atau minggu, tetapi berpikirlah dengan ukuran sejarah, sejarah yang sebagai saudara-saudara dan anak-anak telah mengetahui, telah berusia ribuan tahun.

Bagi manusia satu tahun itu sudah lama, tetapi bagi sejarah sama sekali tidak ada artinya. Kadang-kadang satu kejadian di dalam sejarah itu memakan tempo puluhan, ratusan tahun.

Revolusi adalah satu kejadian gegap-gempita. Revolusi kadang-kadang memakan waktu pula puluhan tahun. Kita baru tiga tahun di dalam revolusi. Tetapi kalau kita hitung revolusi kita mulai 1908, yaitu pada saat kita mengadakan gerakan nasional, itu sudah 40 tahun. Tetapi sekarang pun sudah ternyata bahwa revolusi kita belum selesai, cita-cita nasional kita belum tercapai, cita-cita sosial kita belum tercapai. Jadi revolusi kita ternyata masih belum selesai, dan akan memakan waktu bertahun-tahun, dan oleh karena itu maka pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi harus sadar dan insaf bahwa terutama sekali di atas pundak pemuda dan pemudilah letaknya beban meneruskan revolusi ini.

Orang tua dengan kaki yang satu sudah di dalam kubur. Malah kukatakan, jikalau aku memandang wajahnya orang tua yang sudah 78 tahun, 80 tahun, saya tidak melihat lagi wajahnya manusia, tetapi aku melihat kuburan. Tetapi pemuda-pemuda, kamu pemuda-pemuda yang nanti hidup di dalam alam baru yang sekarang disusun, kamulah Pembina daripada alam baru itu, kamulah pembangun, pembuat, daripada alam baru itu.

Maka oleh karena itu aku tadi berkata kepada pemuda dan pemudi, supaya bercita-cita, supaya jiwa pemuda dipenuhi dengan cita-cita. Jangan menjadi pemuda yang tidak bercita-cita. Aku tadi telah berkata, pemuda yang tidak bercita-cita bukan pemuda. Pemuda dan pemudi yang tidak bercita-cita, sudah mati sebelum mati. Kukatakan, bercita-citalah!

Adalah seorang pujangga besar namanya R.W. Emerson, menulis satu kitab special buat pemuda-pemuda. Adalah satu karangan dari kitabnya itu berbunyi: “wangt uw idealen aan de sterren. Als u ze daar niet hangt, dan hangen ze te laag”. Pasangkan engkau punya cita-cita setinggi bintang di langit, kalau tidak, maka cita-citamu itu terlalu rendah.

Maka oleh karena itu aku minta kepada saudara-saudara, hai pemuda dan pemudi: pasang engkau punya cita-cita setinggi bintang dilangit. Jangan bercita-cita yang kecil-kecil, yang rendah-rendah, yang kurang besar. Tercapai atau tidaknya cita-cita itu tergantung daripada: pertama daripada ikhtiar, peras tenaga untuk mencapai cita-cita itu, kedua, sudah barang tentu tergantung pada Allah Subhanahu Wata’ala, dikabulkan atau tidak. Tetapi bercita-citalah.

Coba lihat pada peta dunia sebagai yang telah kukatakan dalam pidato waktu melahirkan Pancasila. Lihat peta dunia, lihat bagaimana Allah SWT meletakan kepulauan Indonesia itu, kepulauan Indonesia yang bukan satu, dua, tetapi puluhan bahkan ratusan, bahkan ribuan, dengan ribuan selat-selatnya pula, dan ribuan teluk-teluknya pula, kepulauan Indonesia yang laksana menjadi satu oleh satu tangan, Maha Tangan, yaitu tangan Allah SWT, dan di letakan pula disatu tempat yang penting.

Kepulauan Indonesia yang indah dan permai ini, yang selalu engkau puja-puja, yang keindahannya termasyhur di seluruh dunia, yang dikatakan the Garden of the East, yang dikatakan Multatuli: de insulinde die zich om de evenaar heen slingert, als een gordel van een smaragd.

Indonesia yang indah ini diletakan oleh Alllah SWT menjadi satu, tidak daerah Sumatera dekat Amerika, tidak daerah Jawa dekat Afrika, tidak daerah Kalimantan dekat Kutub Utara, tidak daerah Sulawesi dekat Kutub Selatan, tidak daerah Kepulauan Sunda Kecil tersebar di Lautan Teduh atau Lautan Atlantik, tidak. Ribuan pulau ini sebagai telah dikatakan tadi ditumpukan oleh Allah menjadi satu kesatuan dan ditaruh oleh Allah di satu tempat yang penting maha penting, persis antara dua benua yang besar, Benua Asia dan Benua Australia, antara dua Samudera yang besar pula dan penting pula, lautan Teduh dan lautan Hindia.

Lautan Teduh, lautan yang penting sekali, bahkan menjadi lebih penting di dalam sejarah, yaitu lautan yang akan menentukan nasibnya dunia. Persis antara Lautan Teduh dan Lautan Hindia, antara Benua Asia dan Benua Australia ini, persis di persimpangan jalan itu, persis di perempatan jalan itu, ditaruh oleh Allah SWT kita punya Kepulauan Indonesia.

Ini adalah kedudukan penting, yang di dalam ilmu geopolitik dinamakan kedudukan kruis-positie, kedudukan palang, antara dua jalan yang hebat.

Satu bangsa yang hidup di persimpangan jalan demikian itu, yang berkedudukan kruis-positie, jika dia kuat dia menjadi penjaga perempatan jalan. Jika dia kuat, oleh karena memang tempatnya adalah tempat yang penting.

Lihat, tatkala di Eropa belum ada kultur, tatkala orang di Eropa masih hidup di dalam rimba raya, tatkala bangsa Germaan masih hidup di bawah pohon-pohonan, tatkala, tatkala bangsa Germaan belum memakai baju tetapi masih memakai kulit binatang, tatkala itu ribuan tahun yang lalu di Indonesia telah ada kultur, telah ada kebudayaan, telah kita mempunyai negara seperti Mataram dan Sriwijaya.
Jadi jikalau kita tidak kuat, kruis-positie membawa bahaya. Tetapi sebaliknya jikalau kita kuat, jikalau kita bersatu-padu sebagai yang telah kuceritakan tadi malam dan di rapat umum tadi, jikalau bangsa Indonesia yang 70 milyun ini bersatu-padu, menyusun tenaga sekuat-kuatnya, jikalau bangsa Indoensia demikian, dia menduduki satu tempat yang tidak ubahnya daripada kedudukannya seorang polisi di persimpangan perempatan jalan.

Tidakkah seorang polisi itu berkuasa di persimpangan jalan? Dia berdiri di persimpangan 4 jalan itu, dari utara, dari selatan, dari timur, dari barat, perlu dia punya izin bagi segala lalu lintas. Tidak ada satu motor boleh lewat di situ zonder izin sang polisi Negara. Tidak boleh seekor kuda lewat di situ zonder izin sang polisi Negara. Tidak boleh seekor kerbau lewat di situ zonder izin sang polisi Negara. Tidak boleh seekor semut lewat di situ zonder izin sang polisi Negara.

Contoh ini baik untuk mengertikan pada kita bahwa kedudukan kruis-positie adalah kedudukan yang hebat. Maka oleh karena itu aku katakan, jikalau engkau pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi tidak sadar akan hal ini, alangkah bodohnya engkau.

Jikalau kita pemuda-pemudi tidak mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan tidak berterima kasih bahwa ini adalah satu rakhmat yang tinggi daripada Allah kepada kita dan tidak berjuang untuk kemerdekaan dan kebesaran kepulauan ini, kita sebenarnya berdosa kepada Alllah SWT. Ini insafkan di dalam engkau punya kalbu, tanam sedalam-dalamnya di dalam engkau punya hati, laksana memasuki tiap-tiap tulang dan tiap-tiap sumsum, memasuki tiap-tiap urat syarafmu, memasuki tiap-tiap atom daripada badanmu. Tanamkan sedalam-dalamnya.

Jikalau engkau bertanya kepada Bung Karno: Ya Bung Karno, apakah cita-cita Bung Karno? Aku menjawab: Insya Allah SWT. Republik kita kali ini agak kecil daripada dahulu, tetapi Republik ini dapat menjadi modal kita berjuang, Republik ini tetap menjadi pelopor kita, tetap menjadi obor perjuangan segenap bangsa Indonesia, Republik ini juga yang hendaknya menjadi lebih besar, insya Alllah terjadilah satu negara nasional.

Kalau negara nasional ini selamat terpelihara oleh ketabahan hati kita, 25 tahun lagi insya Alllah SWT jika kalender menyatakan tahun 1975, aku bercita-cita, jika diberi oleh Tuhan, diberkati oleh Tuhan perjuangan kita ini, di dalam tahun 1975 di dalam tiap-tiap rumah Indonesia, walaupun rumah di puncak gunung pun menyala lampu listrik. Inilah cita-cita, saudara-saudara.

Aku bercita-cita yang jalan kereta api bersimpang siur memenuhi Sumatera, memenuhi Jawa, memenuhi Kalimantan, Sulawesi dll. Aku bercita-cita supaya tiap-tiap rumah tangga mempunyai radio. Aku bercita-cita supaya tiap-tiap kampung, tiap-tiap desa yang kecilpun mempunyai radio umum, agar supaya tiap-tiap manusia Indonesia dapat mendengar kabar dunia yang penting, kabar tanah air Indonesia, dan pada waktunya dapat juga mendengar lagu-lagunya Miss Sumarti yang merdu-merdu.
Satu pergaulan hidup yang tiap-tiap manusia Indonesia dapat sejahtera. Aku bercita-cita pergaulan hidup modern, tetapi bukan modern kapitalisme, tetapi yang modern kolektivis, gotong-royong, satu sama lain sama-sama mengadakan, mendirikan, membina, membangun, satu pergaulan hidup yang makmur, kekal dan abadi.

Aku bercita-cita supaya nanti kelak kemudian hari di waktu yang dekat ini, jika anak-anakku dari Kutaraja, dari Sigli, dari Bireuen, dari manapun, dari kampungnya yang kecilpun, dia walaupun tidak memiliki uang banyak untuk membayar, supaya tiap-tiap manusia Aceh, manusia Indonesia ini dapat terbang dari Kutaraja sampai ke New York, dari Kutaraja ke Surabaya, dari Surabaya sampai ke London, terus demikian saudara-saudara.

Maka oleh karena itu saya minta pemuda-pemuda sekalian menjadi air minded. Semuanya pemuda-pemudi haus air minded. Maka oleh karena itu cita AURI, ikhtiar AURI, supaya kita bangsa Indonesia lekas mempunyai angkatan udara yang besar. Angkatan Udara Militer dan Angkatan Udara Sipil. Supaya kita bangsa Indonesia terutama sekali yang di Sumatera ini, yang satu tempat terpisah dari lain tempat oleh rimba yang lebat, yang susah disitu di adakan jalan, apalagi jalan kereta api, agar supaya perhubungan antara kota dan kota di Sumatera, dengan kota-kota di lain pulau dapat berjalan lancer, agar supaya kita lekas mempunyai di Aceh sedikit-dikitnya 5 kapal udara, Sumatera Timur 5 kapal udara, Riau dua, tiga kapal udara, Jambi dua, tiga kapal udara, Minangkabau 5 kapal udara, Palembang 5 kapal udara, Lampung 6 kapal udara, tiap-tiap keresidenan di Tanah Jawa 5 kapal udara.

Jika kita telah mempunyai Angkatan Udara yang demikian alangkah gampangnya perhubungan kita antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia.

Cita-cita sosial kita tinggi, setinggi bintang dilangit dan aku minta cita-cita politik dan cita-cita sosial itu berkobar-kobar di dalam engkau punya dada.

Kita mempunyai pemimpin-pemimpin besar seperti Mohammad Hatta. Tetapi ketahuilah, lebih besar daripada manusia ialah cita-cita yang bergelora di dalam dadanya. Hatta adalah orang besar, tetapi lebih besar daripada Hatta, ialah cita-citanya, demikian pula Pandit Jawaharlal Nehru adalah orang besar tetapi lebih besar daripada Nehru ialah cita-cita yang hidup, berkobar-kobar, menyala-nyala di dalam dadanya Pandit Nehru ini.

Cita-cita tidak dapat dikurung. Cita-cita selalu berjalan, selalu hidup. Manusia bisa dimasukan kedalam penjara, bisa dimasukan kurungan, Gandhi bisa dimasukan dalam penjara, Nehru bisa dimasukan dalam penjara, Hatta bisa dimasukan dalam penjara, tetapi cita-cita tidak dapat dikurung dalam penjara.
Maka oleh karena itu, jika engkau punya kalbu penuh, berkobar-kobar, menyala-nyala dengan cita-cita, badanmu bisa hancur-lebur, badanmu bisa menjadi debu hilang dari dunia ini, tetapi cita-cita it uterus hidup, terus menerus dia berjalan sampai akhirnya tercapai kita punya cita-cita.

Tidakkah telah kukatakan didalam tahun 1928, dua puluh tahun yang lalu telah kukatakan, negara tak lain tak bukan ialah alat, alat untuk menyelenggarakan barang sesuatu. Negara bukan “doel”, bukan tujuan, negara adalah “middle”, negara adalah jembatan.

Negara adalah jembatan emas, kukatakan, jembatan emas untuk datang di dalam satu masyarakat yang adil dan makmur. Dengan melalui jembatan emas ini, dengan mempergunakan alat ini, kita mengadakan satu pergaulan hidup yang memenuhi kita punya cita-cita sosial.

Pemuda-pemuda adalah harapan bangsa. Tetapi pemuda yang tidak konstruktif, dan destruktif, pemuda yang demikian itu tidak menjalankan tugasnya secara historis. Pemuda adalah harapan bangsa, pemuda adalah bunga bangsa.

Tetapi ingat, bunga dan bunga adalah dua. Ada bunga yang segar dan harum dan cantik. Ada bunga yang layu dan berbau busuk. Bunga yang segar dan harum dan cantik dipakai untuk menghiasi kondenya gadis-gadis manis. Tetapi bunga yang layu, bunga yang tidak segar, bunga yang berbau busuk, jangankan gadis, lalatpun tidak mau mendekati bunga yang demikian itu.

Pemuda-pemuda, selalu aku besar-besarkan hatiku, kutunjukan kecintaanku kepada pemuda, aku laksana hendak merantai segenap pemuda di Indonesia ini. Tenagamu, jiwamu, semangatmu, kesediaanmu berkorban, laksana hendak kumasukan ke dalam badanku ini, agar supaya aku sendiri mendapat kekuatan berjuang untuk melaksanakan kita punya cita-cita politik dan sosial.

Pemuda, selalu kukatakan; berikan kepadaku 1.000 orang tua, 10.000 orang tua, 100.000 orang tua, 1 milyun orang tua, aku dapat memindahkan Pulau Weh sampai daerah Tanah Jawa. Tetapi berikan kepadaku, 1.000 pemuda, 10 pemuda, tetapi yang hatinya betul-betul berkobar dengan api kemerdekaan, dengan 10 pemuda itu aku menggemparkan seluruh dunia.